Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hallo sobat pena, apa kabar? semoga sehat dan bahagia selalu ya๐
Alhamdulillah, mencoba produktif lagi setelah satu tahun tidak menulis dalam ruang ini.
Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi kisah tentang para pahlawan. Pahlawan yang mulai terabaikan. Pahlawan yang tak kenal nilai. Pahlawan yang sering kali tak dipandang karena pesatnya zaman.

Sudah menebak siapa para pahlawan itu?
Hayo tebak duluuu✌✌
Sudah tahu??
Nah, mungkin jawaban mu berbeda-beda. Ya, karena ku tau banyak pahlawan di dunia ini yang sudah mulai hilang reputasinya sebab semena-menanya kita dalam memandang hidup ini.
Biar ku beri tahu siapa pahlawan yang akan ku ceritakan...
Para pahlawan itu adalah....... GURU-GURU kita.
Iya, Guru adalah pahlawan yang sering kali diabaikan, dianggap rendah perannya, dipandang mudah pekerjaannya, dilihat tak menggiurkan jabatannya, dan terlihat biasa saja pekerjaannya. Walaupun tak semua berpandang seperti itu.
Baik, kali ini saya akan sedikit bercerita mengapa saya memilih jalan juang menjadi Pahlawan yang sering terabaikan. Cerita ini saya tulis berdasarkan apa yang telah saya rasakan dan juga motivasi oleh dosen saya Ibu Yuli Rahmawati, M.Sc., Ph.D, beliau adalah dosen sekaligus koorprodi S1 Pendidikan Kimia yang selalu membuat saya semangat. Rasanya ingin sekali menceritakannya namun akan panjang sehingga tujuan cerita saya akan berbelit hehe. Ketika Ibu Yuli membaca saya hanya ingin mengucapkan Terima kasih telah menadi guru terbaik, selalu memberi motivasi semoga sehat selalu aamiin...
Oke, saya akan mulai bercerita,
selamat menikmati, semoga menginspirasi dan jangan lupa selalu berbagi
Siapa yang ingin menjadi guru?
Cobalah tanya, dari banyaknya murid disekolah mu berapa siswa yang ingin jadi guru?
Ketika saya duduk di bangku SD-SMP saya sama sekali tidak berminat menjadi guru hanya ingin menjadi pramugari. Dan ketika saya berada di SMA tingkat satu, saya selalu ditanyakan tentang "mau jadi apa kamu nak?" "mau lanjut jadi apa kamu nak ketika lulus SMA?" oleh uru-guru BK saya. BINGUNG. Hanya satu kata itu yang saya lontarkan, lagi-lagi guruku sabar tak pernah memaksa, membiarkan waktu berjalan seiring aku mencari arah tujuan pasti ku, sama pun dengan orang tua ku.
Hari berganti hari, setiap belajar apapun ku selalu bertanya pada diri sendiri "Ilmu yang kudapatkan dari TK-SMA akan ku bawa kemana ya?" selalu kalimat tanya itu terngiang di kepala ku. Sampai akhirnya saya sering dihadapkan dengan persoalan diluar yang hanya berisi "kurangnya kasih sayang Ibu kepada anak" dilihat dari persoalan ini ternyata banyak terjadi pada ibu yang notabenenya bekerja diluar dan anak-anak jarang sekali ada waktu bersama ibunya.
Dari persoalan-persoalan diatas saya selalu mencari solusi apa yang harus saya lakukan. Setidaknya saya tidak seperti itu. Waktu terus berjalan, akhirnya setitik cahaya memberi pencerahan pada pertanyaan saya selama ini "kemanakah ilmu yang saya akan dapatkan?" jawabannya adalah saya harus mengamalkanya dan harus ada yang saya tekuni salah satu ilmu yang selama ini dipelajari. Walaupun saya tau semua ilmu itu akan berguna namun saya ingin benar-benar melekat pada pekerjaan saya nanti.
Saya mulai mencari-cari pekerjaan yang sesuai dengan titik terang yang telah saya temukan. Namun, perjalanan belum mengantarkan saya pada jawaban yang pasti. Sembari berpikir hal itu saya memikirkan solusi atas permasalahan yang sering saya lihat yaitu "kurangnya kasih sayang ibu kepada anak" disini saya mulai riset kembali pekerjaan apa yang cocok berdasarkan kedua permasalahan saya. Adapun salah satu yang pernah terpikirkan "untuk apa saya pusing memikirkan, toh nanti saya bisa jadi ibu rumah tangga saja" namun pikiran ini bertolak dengan permasalahan saya yang pertama dan ibu saya yang telah berpesan bahwa penting juga seorang perempuan sekaligus istri memilki uang sendiri agar mudah memberi orang banyak. Dari pesan ibu tersebut saya dapat mengambil kesimpulan bahwa saya harus bekerja atau minimal pandai berwirausaha. Saya pun tetap ingin bekerja tanpa harus meninggalkan peran menjadi ibu/istri.
Pada kenaikan kelas XI saya mulai berpikir dengan seluruh hati dan jiwa saya tak lupa meminta selalu kepada Allah titik terang kehidupan saya. Sebab saya ingin sekali mendapatkan universitas dengan jalur undangan dan saat itu juga saya harus berusaha meningkatkan nilai-nilai saya sebelum melangkah terlalu jauh. Setelah dipikir-pikir saya harus melihat kompeten dibidang pelajaran apa selama ini, terutama pelajaran MIPA, saya pun menemukan jawaban yang dibantu oleh beberapa guru saya yaitu KIMIA. Dan Alhamdulillah, saat mulai duduk di awal kelas XI saya mendapatkan solusi atas kedua permasalahan saya selama ini.
Iya, menjadi GURU KIMIA.
Solusi yang tepat bagi saya. Menimbang ketika jadi guru, saya punya banyak waktu untuk anak-anak ketika anak sekolah saya pun di sekolah dan ketika anak libur sekolah saya pun sama. Ketika sudah mendapatkan jawaban ini, sungguh tak ada ragu dan selalu semangat. Dari angkatan saya di MIPA saya adalah salah satu orang yang memilih keguruan MIPA. Sungguh ini luar biasa bagi saya. Guru-guru dan teman-teman kala itu sangat mendukung saya. Guru kimia saya selalu meminta bantuan dalam hal ke-kimi-an, lalu teman-teman saya yang selalu minta diajarkan kimia, teringat kejadian saya belajar bersama teman-teman saya sampai jam 24.00 WIB hanya untuk Ujian Praktek Kimia, kala itu saya sangat dipercaya untuk membantu teman-teman menghadapi Uprak.
Setelah mengajari teman-teman saya selalu merasa senang, dan merasa yakin bahwa potensi saya besar untuk mnjadi seorang guru. Untuk mengejar cita-cita itu saya selalu meminta pengayaan lebih dahulu kepada guru kimia saya.
Singkat cerita, Alhamdulillah saya dapat menggapai cita-cita menjadi guru kimia dengan jalur undangan (SNMPTN). Masuklah saya pada salah satu universitas yang saya selalu sholawatkan kala tegangnya ujian-ujian sekolah, iya Universitas Negeri Jakarta yang dikenal dengan pencetak guru terbaik kala itu dengan sebutan IKIP Jakarta. Sangat bahagia dapat membanggakan orang-orang sekitar hidup saya sampai guru kimia saya memberi amanah sebuah bross PNS-nya kepada saya. Sungguh, saya menangis menceritakan ini, betapa berharganya saat itu diberi amanah melanjutkan perjuangannya.
Cita-cita untuk menjadi guru yang ideal sedang saya tempuh dan pelajari di UNJ tentunya dengan program studi yang sesuai dengan minat saya juga yaitu Pendidikan Kimia.
Di masa kuliah pada semester 4 yang saya tempuh ini saya sudah banyak menemukan ilmu-ilmu baru untuk perbekalan saya nanti menjadi guru namun sudah banyak belum tentu mencukupi kepuasan saya, ketidakpuasan saya membuat ingin terus belajar tertutama dalam mata kuliah kependidikan.
Selama belajar mata kuliah pendidikan, membuat saya semakin sadar bahwa menjadi guru adalah amanah yang sangat besar dan seorang pahlawan yang perannya setiap saat.
Selain mengajar guru juga harus mendidik serta beban moralnya sangat besar. Berat sekali membayangkannya jika tidak amanah dalam jalan juang pendidikan ini. Fatal sekali, sedikit kesalahannya dapat berdampak besar bagi generasi masa depan bangsa.
Namun, banyak sekali peran guru yang mulai terabaikan seolah-olah semua bisa menjadi guru hanya dengan mengajar, sering kali guru diabaikan menjadi pahlawan sebab teknologi memudahkan semua.
Walupun tak banyak yang mengabaikan, jasa dan peran guru juga dianggap sangat penting sebab teknologi tidak dapat merubah peradaban hanya dapat bantu memajukan peradaban. Maka itu, saya sangat bangga menjadi guru di masa kelak sebab perannya tak lekang oleh waktu, jasanya tak terhitung oleh materi dan kasih sayangnya tak bisa dibeli.
Memang, perlu kesadaran yang besar untuk bisa masuk ke dimensi seberapa pentingnya seorang guru dalam kehidupan kita.
Ternyata, sudah di akhir cerita saya.
Ada sedikit pesan buat sobat pena agar selalu menghargai peran guru. Jika tidak ingin menjadi guru maka jadilah peserta didik yang santun, sebab guru tak hanya mengajar dan mendidik namun memberi hati dan arti serta menjaga moral para peserta didik.
Teruntuk para guru,
Engkaulah pahlawan yang tak kenal waktu
Pahlawan bangsa yang terabaikan oleh teknologi maju
Walau sering diabaikan kehidupanmu
Tapi luka kau balas senyuman syahdu
Medan perang kau arungi dengan lika-liku
Mendidik anak bangsa agar terus maju
Menjaga moral bangsa agar tak menjadi babu
Guru ku, engkaulah pahlawan ku
Ku do'akan agar bahagia sehat selalu....
Terima kasih kepada sobat pena yang telah setia membaca tulisan sepanjang ini.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat ya.
Sehat-sehat selalu sobat.
SEMOGA MENGINSPIRASI DAN SEMANGAT BERBAGI๐ช๐ช
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
#PendidikanKimiaUNJ
Comments
Post a Comment